LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA LIPID
LAPORAN BIOKIMIA
LIPID
OLEH:
ARMIN
Q1B115011
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lipid didefinisikan sebagai senyawa organik yang terdapat
dalam alam serta terlarut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik
non-polar seperti suatu hidrokarbon atau dietil eter. Definisi ini terasa
mencakup banyak macam senyawa dan memang demikian. Berbagai kelas lipid
dihubungkan satu sama lain berdasarkan kemiripan sifat fisisnya tetapi hubungan
kimia, fungsional dan structural mereka, maupun fungsi-fungsi biologis mereka
beranekaragam. Lipid terdiri dari lemak (sekitar 95%), steroid, karotenoida,
dan vitamin yang larut dalam lemak.
Lipid meliputi senyawa-senyawa heterogen termasuk lemak dan
minyak yang umum dikenal dalam makanan, fospolipida, sterol, dan ikatan lain
sejenis yang terdapat di dalam makanan dan tubuh manusia. Lipid mempunyai sifat
yaitu larut dalam pelarut non-polar.
Lipid yang terdapat dalam makanan sebagian besar berupa
lemak, oleh karena itu metabolisme yang akan dibahas terutama konduktor panas
yang jelek, sehingga lipid dalam tubuh mempunyai fungsi untuk mencegah
terjadinya kehilangan panas dari tubuh. Selain itu lemak mempunyai fungsi
melindungi organ-organ tubuh tertentu dari kerusakan akibat benturan dan
goncangan. Lemak juga merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung
vitamin A, D, E dan K.
Fosfolipid adalah lipid yang mengandung gugus ester fosfat.
Fosfogliserida, satu tipe fosfolipid, erat hubungan dengan lemak dan minyak.
Senyawa ini biasanya mengandung ester asam lemak pada dua sisi gliserol dengan
suatu ester fosfat pada posisi ketiga. Fosfogliserida bersifat jelas terbedakan
(Distinctive) karena molekul-molekulnya berisi dua ekor hidrofobik yabg panjang
dan suatu gugus hidrofobik yang sangat
polar. Oleh karena itu
fosfogliserida bersifat surfaktan
netral. Mereka merupakan zat pengemulsi yang sangat bagus.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan
praktikum sehingga mahasiswa dapat
mengetahui secara umum mengenai lipid dan kegunaannya dalam kehidupan
sehari-hari.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum ini untuk mengetahui bagaimana
cara memeriksa kelarutan lemak dengan menggunakan air, bensin, alkohol dan
larutan heksan.
Kegunaan dari praktikum ini yaitu agar mahasiswa memahami
reaksi yang terjadi dalam pemeriksaan kelarutan lemak dan dapat menyimpulkan
hasil yang didapat.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Lipida adalah senyawa organik yang terdapat dalam
mahluk hidup yang larut di dalam pelarut non-polar tetapi tidak larut dalam air.
Lipida terdiri dari lemak (sekitar 95%), steroida, karotenoida, dan vitamin
yang terlarut dalam lemak (Asnani, dkk. 2009).
Lipid meliputi senyawa-senyawa heterogen termasuk lemak dan
minyak yang umum dikenal dalam makanan, fospolipida, sterol, dan ikatan lain
sejenis yang terdapat di dalam makanan dan tubuh manusia. Lipid mempunyai sifat
yaitu larut dalam pelarut non-polar (Syamsuri,
2000).
lemak tersusun pula oleh unsur C, H dan O, tetapi berbeda
jumlahnya. Lemak merupakan sumber energi yang menyediakan kalori terbanyak bagi
tubuh dibandingkan karbohidrat dan protein. Fungsi lemak selain sebagai sumber
energi adalah pelarut vitamin A, D, E dan K, pembangun bagian tubuh tertentu,
pelindung alat-alat dalam (sebagi bantalan), dan pelindung tubuh dari suhu
rendah. Lemak dapat dibedakan atas 3 kelompok, yaitu lemak sederhana (lemak dan
minyak), lemak campuran (fosfolipid dan lipoprotein dan lemak asli (asam lemak
dan sterol) (Pratiwi, 2004).
Jika minyak dikocok dengan kuat dengan air akan
terjadi emulsi yang tidak mantap karena butir-butir minyak kecil akan memisah
dari air. Penambahan emulgator misalnya, protein, gom, sabun akan terbentuk
emulsi yang stabil. Lemak larut dalam pelarut non-polar seperti eter, heksan,
bensin, kloroform, tetapi tidak larut di dalam pelarut polar. Lemak dalam
larutan NaOH atau KOH akan terjadi penyabunan (Rusiman, 2008).
Lemak hewan pada umumnya berupa zat padat pada suhu
ruangan, sedangkan lemak yang berasal dari tumbuhan berupa zat cair. Lemak yang
mempunyai titik lebur tinggi mengandung asam lemak jenuh, sedangkan lemak cair
atau yang biasa disebut minyak mengandung asam lemak tidak jenuh. Lemak hewan
dan tumbuhan mempunyai susunan asam lemak yang berbeda-beda (Poedjiadi, 1994).
Apabila lemak di hidrolisis dengan asam akan
menghasilkan asam lemak dan gliserol, sedangkan hidrolisis lemak dengan enzim
dapat di lakukan dengan lipase yang menghasilkan asam lemak dan mogliserida
III. MOTEDE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan
Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, 6 Mei 2017pada
pukul 10.00-12.00 WITA, bertempat di Laboratorium Jurusan Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo, Kendari.
3.2 Alat dan
Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pratikum lemak dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini.
Tabel 8. Alat
dan Bahan beserta fungsinya yang digunakan dalam
praktikum
A. Alat
1. Tabung reaksi Menyimpan larutan
2. Pipet tetes Mengambil
larutan
3. Batang pengaduk Mengaduk
larutan
B. Bahan
1. Minyak goreng Objek Pengamatan
2.
Mentega
Objek Pengamatan
3.
Bensin
Sebagai
pereaksi
4. Air Sebagai
pereaksi
5. Alkohol
95% Sebagai
pereaksi
6. Hexan Sebagai
pereaksi
3.3 Prosedur
Kerja
Prosedur kerja pada pemeriksaan kelarutan lemak adalah
sebagai berikut :
- Siapkan
5 buah tabung reaksi yang bersih dan kering.
- Tambahkan
pada masing-masing tabung reaksi 1 ml minyak goreng dan mentega, kemudian
dicampurkan dengan bahan sebagai berikut :
Tabung I : ditambahkan 1 ml air
Tabung II : ditambahkan 1 ml bensin
Tabung III : ditambahkan 1 ml alkohol 96%
Tabung IV : ditambahkan 1 ml heksan
- Aduk
sampai homogen. Diamkan beberapa menit.
- Catat
perubahan yang terjadi.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Pengamatan
- Hasil pengamatan pemeriksaan kelarutan lemak
pada minyak goreng dan mentega.
a.
Mengunakan Minyak goreng
Tabel
9. Hasil pengamatan pemeriksaan
kelarutan Lemak.
Tabung
|
Minyak goreng
|
Pereaksi
|
Hasil
|
Keterangan
|
I
|
1 ml
|
air
|
Tidak homogen/tidak larut
|
Larutan tepisah
|
II
|
1 ml
|
Bensin
|
Homogen
|
Larut
|
III
|
1 ml
|
1 ml alkohol
|
Tidak homogen
|
Tidak larut
|
IV
|
1 ml
|
n-Heksan
|
homogen
|
larut
|
b.
Menggunakan Mentega
Tabel 10.Hasil pengamatan kelarutan lemak menggunakan mentega.
Tabung
|
Mentega
|
Pereaksi
|
Hasil
|
Keterangan
|
I
|
1 ml
|
air
|
Tidak homogen
|
Menggumpal
|
II
|
1 ml
|
bensin
|
Homogen
|
Larut
|
III
|
1 ml
|
1 ml alkohol
|
Tidak homogen
|
Menggumpal
|
IV
|
1 ml
|
1 ml NaOH
|
Homogen
|
Larut
|
4.2 Pembahasan
Lipida adalah senyawa organik yang terdapat dalam
mahluk hidup yang larut di dalam pelarut non-polar tetapi tidak larut dalam
air. Lipida terdiri dari lemak (sekitar 95%), steroida, karotenoida, dan
vitamin yang terlarut dalam lemak. Lipid meliputi senyawa-senyawa
heterogen termasuk lemak dan minyak yang umum dikenal dalam makanan,
fospolipida, sterol, dan ikatan lain sejenis yang terdapat di dalam makanan dan
tubuh manusia. Lipid mempunyai sifat yaitu larut dalam pelarut non-polar.
Lemak dan minyak merupakan zat makanan yang penting
untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu lemak dan minyak juga
merupakan sumber energi yang efektif dibanding dengan karbohidrat dan protein.
Pada pengamatan minyak goreng, dicampurkan 4 jenis
pereaksi yaitu air, bensin, alkohol dan heksan. Pada tabung
pertama, minyak goreng ditambahkan dengan dan hasilnya minyak goreng tidak
larut dalam air. Pada tabung kedua, minyak goreng ditambahkan dengan bensin dan
hasilnya minyak goreng larut dalam bensin. Pada tabung ketiga minyak goreng
ditambahkan dengan alkohol 95% dan hasilnya tidak homogen. Kemudian tabung
keempat yaitu minyak goreng ditambahkan dengan n-hexan dan hasilnya terjadi
homogen. Pada bensin dan eter terjadi homogen yaitu minyak goreng larut dalam
pelarut tersebut karena keduanya merupakan pelarut non polar. Sedangkan pada
air dan alkohol terjadi emulsi yang tidak mantap sehingga larutannya akan
memisah.
Pada pengamatan mentega yang juga dicampurkan 4 jenis
pereaksi yaitu air, bensin, alkohol dan heksan. Pada pencampuran tersebut, air
dan alkohol tidak mampu juga melarutkan mentega, hal ini disebabkan karena
alkohol merupakan larutan polar. Air merupakan larutan non-polar namun lemak
tidak larut pada air karena lemak memiliki kosentrasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan kosentrasi air.
Pada larutan
bensin dan heksan, minyak goreng mampu terlarut dalam kedua jenis larutan itu.
Hal ini membuktikan bahwa bensin dan heksan merupakan senyawa non-polar
sehingga minyak goreng yang memiliki kandungan lemak yang tinggi, mampu
terlarut di dalam kedua larutan tersebut. Hal ini berlaku pada percobaan yang
dilakukan menggunakan mentega sebagai sampel.
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum
ini adalah :
1.
Pemeriksaan kelarutan lemak dengan
menggunakan minyak goreng menghasilkan larutan homogen pada bensin dan hexan,
sedangkan air dan alkohol tidak homogen.
2.
Pemerksaan kelarutan lemak dengan
menggunakan mentega juga menghasilkan larutan homogen pada bensin dan hexan,
sedangkan air dan alkohol tidak homogen.
3.
Terjadinya homogen dan tidak homogen
pada percobaan tersebut disebabkan karena lemak merupakan senyawa organik yang
larut dalam larutan non polar dan tidak larut dalam air.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan oleh praktikan yaitu pada saat praktikum dilaksanakan sebaiknya para
praktikan memperhatikan dengan baik, agar tidak terjadi kesalahan dalam
melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Asnani, Asmariani. Penuntun Praktikum Biokimia.
2009. FPIK. Unhalu.
Istamar,
Syamsuri. 2000. Biologi. Erlangga.
Jakarta.
Linder.
1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme.
UI-Press. Jakarta.
Poedjiadi.
1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press.
Jakarta.
Pratiwi, D,
A,.. 2004. Biologi Kelas XI.
Erlangga. Jakarta.
Rusiman. 2008. Pengaruh Pengolahan
Lemak. http:///www.rusiman.bpdas
pemalijaratun.net/index.php?option=com_content&view=article&catid=1;pengolahan-pangan&id=4;papain&itemid=402.
Unus,
Suriawiria. 2005. Mikrobiologi Air.
P.T. Alumni. Bandung.
Komentar
Posting Komentar